Jujur Itu Dosa 2

Dalam kepenatan yang tersisa ini, aku coba menulis lagi, walau berjuta harapan telah sirna terkubur beribu keinginan yang tak pernah sampai, apalah yang bisa diharapkan dari orang-orang bodoh macam aku yang hanya bisa berkhayal dan berkhayal tentang masa depan yang tiada pasti ini.

Lalu waktu berjalan begitu cepatnya tanpa terasa memburamkan keadaan yang tiada pernah kusadari semuanya, dan semua kini berlalu begitu saja mengantar usia yang mulai menapaki senja.

Maaf, Istriku aku belum bisa membahagiakanmu, maaf Anakku, Ayah nggak punya warisan apapun untukmu, kota Cepu masih belum mau berikan aku titipan rejekiNYA padaku, hanya taburan debu, panasnya kota yang bisa kuceritakan padamu.

Di Cepu, tak lagi bisa kau banggakan kelak nak, karna saudara tak lagi ada, senyum manis, kopi manis tinggal kenangan, apa lagi bisa kukatakan padamu, semua telah berubah,ayahmu tersesat nak, di rumah sendiri, tak ada yang mengenali.

Moga kamu bisa mengerti ternyata Jaman itu telah memutar balikkan kita dalam ketidakmampuan yang tak terelakkan di sudut kota, dan wajah lama itu telah berubah dan berubah, sulit nak untuk kukenal lagi

Nak, jadilah orang yang mengerti, memahami dan menghayati hidup selagi kamu bisa, karna kepintaran-kepintaran itu akan menamakkanmu dalam keserakahan tiada batas, hingga kau terjerembab.

Istriku, tabahlah, yakinlah tak selamanya semua begini, aku yakin dikegersangan tanah Cepu tak cuma ada MINYAK, tapi masih ada teduh embun, atau mungkin mata air, yang mampu menyegarkan jiwa-jiwa kita dari keletihan dipertaruhan hidup yang sebenarnya. Maaf, bila telah mengecewakanmu.

Dan untuk jujur padamu tentang semua ini aku tak pernah mampu, ketika kusadari keterasingan ini, aku makin sadar bahwa JUJUR ITU MUNGKIN MASIHLAH DOSA!

Copyleft © 2008 - 2010 Info Kota Cepu. Some Right Reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.

Developed by omipit with Joomla!, and use AfterBurner template.

This work is license under Creative Commons 3.0

Creative Common