Bapak Bangsat

Lelahku sudah kalah. Sedihku merana pergi. Dan mataku hanya membendung binar indah, tak ingat lagi cara menangis.

Senyuman gadis kecilmu ini masih mengalun, masih bersenandung dengan nyanyimu.

Terlanjur hati yang penuh, membacakan pilihan jenuh. Lari menjauh tak lagi ampuh.

Lalu menghentak bentak setiap jengkal kaki ke depan lalu ke depan lagi dan terus sampai disini.

Meringis, membelai bekas tangan panasmu. Terima kasih Bapak, semua sudah cukup untuk menggugatmu di neraka.

Copyleft © 2008 - 2010 Info Kota Cepu. Some Right Reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.

Developed by omipit with Joomla!, and use AfterBurner template.

This work is license under Creative Commons 3.0

Creative Common