Pemuda Dan Penguasa
Ditulis oleh Ericho Gautama ( UPN Jogja ) Kamis, 04 Desember 2008 01:10
Pada tanggal 27 Januari yang lalu Bangsa kita telah kehilangan salah satu mantan pemimpin nomer satunya, beliau adalah H.M.Soeharto. Jika kita mengingat pribadi H.M.Soeharto pastilah identik dengan pemerintahan era orde barunya. Suatu masa pemerintahan yang dinilai oleh banyak kalangan cenderung kurang menanamkan nilai-nilai demokrasi. Masa orde baru hanyalah menjadi sebuah penjara bagi masyarakat Indonesia, berkedok mengatas namakan demokrasi, akan tetapi dalam praktiknya secara keseluruhan sistem pemerintahan kita hanyalah bersifat otoriter belaka. Walaupun jika di lihat dari bidang ekonomi dan sosial pada masa itu, Bangsa kita mengalami banyak kemajuan bila di bandingkan dengan era sebelum ataupun sesudah orde baru.
Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan. (Che Guevara)
Kebebasan berpendapat juga tidak berlaku dimasa itu, kita sering menjumpai para aktivis muda yang menjadi korban penculikan karena telah menentang kebijakan-kebijakan pemerintah di masa orde baru. Entah kemana perginya mereka, para pemuda yang terpanggil untuk melawan segala bentuk penindasan hilang begitu saja seperti di telan bumi, sampai sekarang ini pun keberadaannya belum diketahui. Keberadaan PERS juga tidak sebebas seperti sekarang, karena dari segi pemberitaan banyak intervensi dari pihak penguasa, barang siapa yang mengkritik ataupun menulis tentang keburukan pemerintah akan mendapat ancaman. Semua ini dilakukan para penguasa agar posisinya tidak terancam oleh para pemberontak. Apakah ini yang disebut dengan demokrasi?, disaat sebuah kritikan dibalas dengan ancaman dan negara kita dipenuhi dengan penguasa-penguasa yang tidak tahan kritik. Apakah seorang pemberontak dianggap sebagai musuh bangsa? Padahal kesewenang-wenangan dan penindasan tidak dapat dihentikan jika tidak ada yang melawannya.
Orde baru ialah sebuah masa di mana bangsa ini harus tunduk terhadap tangan penguasa, sedangkan para kaum muda hanya di jadikan sebagai pelengkap praktik otoriter sang penguasa, Sistem pemerintahan hanya di isi oleh kaum tua, orang-orang tua yang merasa pintar karena lebih banyak memiliki pengalaman jika di bandingkan dengan kaum muda. Karena pada dasarnya bangsa kita masih menganut sistem politik seperti pola pimpinan di dalam sebuah keluarga, di mana orang tua yang memegang kuasa serta peranan sedangkan pemuda di wajibkan untuk tunduk menaati perintah. Ruang gerak para pemuda pun akhirnya menjadi terbatas, mereka hanya berfungsi menjadi pengawas yang baik terhadap apa yang dilakukan para orang tua di kursi pemerintahan sana. Sampai sekarang pun hal seperti itu masih terjadi di bangsa ini, terbukti dengan sedikitnya kaum muda yang menempati kursi pemerintahan, sedangkan secara dominan kaum tua memegang peranan penting di pemerintahan. Pemuda hanya di jadikan sebuah objek kepentingan politik yang di mainkan oleh para kaum tua.
Jika dilihat dari segi kamampuan yang di miliki, kaum muda memiliki kualitas kepemimpinan yang tak jauh berbeda dengan kaum tua. Hal ini di karenakan kaum muda masih memiliki semangat, kreatifitas dan gairah hidup yang lebih tinggi jika di bandingkan dengan kaum tua. Kondisi fisiknya pun jika secara normal jauh lebih prima jika dibandingkan dengan kaum tua, sehingga kaum muda sebetulnya lebih siap dijadikan seorang pemimpin dan memegang peranan-peranan penting di Negara ini. Suatu bukti atas keberhasilan kaum muda ialah di saat meruntuhkan pemerintahan rezim orde baru, kolektifitas para pemuda mampu menumbangkan kekuasaan kaum tua yang semasa memerintah melakukan praktik-praktik penyimpangan. Fase pemerintahan kita pun memasuki fase baru, yaitu Reformasi. Sebuah pemerintahan yang diharapkan mampu menciptakan Bangsa Indonesia yang bersih dari praktik–praktik penyimpang merupakan salah satu tujuan dari perubahan tersebut, walaupun dalam praktiknya Bangsa kita sekarang masih tertatih-tatih. Karena pada dasarnya Bangsa Indonesia belum siap mengalami perubahan tersebut, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan di era orde baru dan akhirnya harus di bebankan pada era reformasi. Persoalan tersebut berupa kasus – kasus korupsi yang belum terselesaikan di era orde baru dan hutang – hutang kepada luar negeri pun juga belum dilunasi.
Kita juga sering menjumpai aktivis mahasiswa ataupun para pemuda yang bersuara lantang, penuh emosi dengan membawa spanduk untuk memperjuangkan hak-haknya atau hak orang lain yang tertindas, menentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan semangat yang membara, mereka rela bercucuran keringat dengan kulit terbakar sinar matahari untuk turun ke jalan menuntut sebuah keadilan dari sang penguasa. Hal ini membuktikan bahwa kaum muda masih memiliki kepekaan terhadap situasi yang terjadi dan peduli terhadap penderitaan rakyat. Bahkan mereka rela harus adu fisik dengan para aparat. Para pemuda marah dengan kesewenang–wenangan penguasa, karena pada dasarnya kaum muda masih memiliki emosi yang labil dan tidak mau jika hanya diam disaat melihat ketidakadilan dialaminya. Hanya seperti inilah yang dapat di lakukan para pemuda sebagai pengawas yang baik atas jalannya sistem pemerintahan Bangsa.
Sebuah perangkap yang terjadi saat ini ialah dijadikannya pemuda sebagai objek kepentingan politik para calon penguasa, kaum muda hanya di jadikan pelengkap bagi mereka yang ingin menduduki kursi pemerintahan. Akhir–akhir ini kita sering menjumpai kaum muda yang menjadi tim sukses dalam pemilihan Gubernur ataupun Bupati di daerah – daerah. Biasanya mereka hanya di iming-imingi oleh kedudukan dan jabatan apabila yang di calonkan memenangkan pemilihan dan berhasil menduduki kursi penting di pemerintahan. Ketanggapan dan kepedulian para kaum muda terhadap penderitaan rakyat pun jadi menghilang entah kemana, karena mereka sudah merasa nyaman dan sibuk dengan jabatan yang di miliki. Jadi kita tak perlu heran jika menjumpai seorang pemuda yang dulunya sering turun ke jalan, dengan lantang menyuarakan aspirasinya, membela kepentingan rakyat yang tertindas karena kebijakan-kebijakan pemerintah, akan berubah menjadi seseorang yang sama sekali tidak peduli dan tanggap lagi karena telah menduduki kursi empuk di pemerintahan dan bahkan akan menambah penderitaan rakyat nantinya. Jabatan dan kemapanan akan membutakan kepedulian para pemuda terhadap sesama.
Adanya statement “Pemuda adalah calon pemimpin bangsa” akan menjadikan belenggu bagi para kaum muda, ruang gerak para pemuda pun menjadi terbatas di luar arena kekuasaan saja, mereka hanya bisa menjadi pengawas yang baik dan tidak bisa menjadi pelaku politik secara langsung, karena dengan adanya statement tersebut para pemuda hanya di siapkan untuk menjadi pemimpin bangsa jika sudah memasuki usia tua nanti. Dengan alasan dari kaum tua bahwa para pemuda kurang memiliki pengalaman dan kurang matang jika harus menduduki kekuasaan di kursi pemerintahan akan menjadikan sebuah monopoli di pemerintahan bahwa kursi – kursi penting hanyalah untuk para orang tua saja. Padahal setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk menjadi seorang pemimpin, tidak mempersoalkan berasal dari golongan tua maupun muda.
Seharusnya kaum tua dan kaum muda bersama – sama menduduki kursi pemerintahan, saling melengkapi satu sama lain untuk berjuang melepaskan belenggu penderitaan rakyat yang terjadi saat ini sebagai akibat dari keburukan era pemerintahan sebelumnya. Kesempatan harus diberikan kepada para pemuda sebagai bentuk perubahan di pemerintahan kita. Bangsa ini sudah bosan dengan tingkah laku para penguasa dengan kesewenangannya. Para orang tua dipercaya menjadi seorang pemimpin, tapi apa yang terjadi sekarang? Banyak dari mereka yang melakukan praktik-praktik korupsi dan penyimpangan. Semua tergantung kita kawan………!!!, apakah kita akan tetap mejadi pengawas saja ataukah kita harus berontak terhadap kesewenangan yang terjadi sebagai bentuk perubahan.
- Tempat Itu Bernama Warung Kopi
- Anakku Sudah Bisa Kencing Sendiri
- Anakku Seorang Penjilat
- Anak-anak Menerima Rapot
- Kita adalah Orang-orang yang Menunggu
- Pergi Hanya untuk Kembali!
- Teman Masa Kecilku
- Betapa Ingin Saya Dicemburui
- Milikku Akan Selalu Kembali Kepadaku
- Berikan Sakit Anakku Kepadaku
- Bau Tubuh Istriku
- Berdialog dengan Derita
- Doa Yang Salah Jurusan
- Doa Anak-anak Saya
- Di Stadion Dengan Penonton Ratusan Ribu
- Blok Cepu Yang Sebenarnya
- Band Jepang yang Beraliran VISUAL KEI
- Fenomena Anak Jalanan
- Kota Cepu Kota Impian
- Hukum Newton Ketiga
- Sang Kesatria
- Geliat Seni Urban Sebagai Bentuk Aktualisasi Diri para Penduduk Kota
- Overview Japanese Rock
- Anjingku Berkata "ANJING" Kepadamu
- Bangkitnya Pergerakkan Mahasiswa
- Seandainya Jeritanku Terdengar
- Pentingnya Sebuah Blog Untuk Guru
- Saat Kuhapus Bekas Bibirnya
- Budaya Indie Sebagai Bentuk Kemerdekaan Berkreatifitas
- Simbol Perlawanan Itu Menjual
- Presentation is Your Show - Selesai
- Presentation is Your Show #7
- Presentation is Your Show #6
- Presentation is Your Show #5
- Presentation is Your Show #4
- Presentation is Your Show #3
- Presentation is Your Show #2
- Presentation is Your Show #1
- Sex After Dugem - Filsafat Praktis untuk Menulis
- Menulis itu gampang. Lesson No. 6
- Menulis Itu Gampang. Lesson No. 5
- Menulis Itu Gampang. Lesson no. 4
- Menulis itu gampang. Lesson No. 3
- Menulis itu gampang. Lesson No. 2
- Menulis itu gampang. Lesson No. 1


