Seandainya Jeritanku Terdengar
Ditulis oleh Peserta Pelatihan OLB Pemkab Blora Kamis, 15 Oktober 2009 15:02
Dering hape Samsung C100 yang kuset jam 5.30 tadi malam, membuatku sedikit tersentak, terjaga dari lelapnya pelukan sang dewi malam. Tanpa perdebatan panjang seperti dalam sidang dewan, segera kuberanjak dari terpal pink bertebal 1,5 mm yang setiap hari menyangga tubuh krempengku yang makin lama makin keropos di kudeta oleh rayap beserta koleganya. Dengan mata lebam sedikit kucel kucoba meraih saklar lampu yang berada disamping foto wisudaku 2 tahun yang lalu, supaya ruangan 3x3 ini menjadi terang.
Tak bosannya kumemandang wear pack merah matang bertuliskan “APEXINDO” dipunggung, yang kudapatkan dari Sukri, salah satu teman pelatihan OLB-ku dulu di Migas. Karna bernasib baik, sekarang dia sudah bekerja di perusahaan pemboran. Tepat diatas wearpack itu terdapat helm safety berwarna merah yang kubeli second di loakan Mbak Romo, yang masih pantas kupakai. Walaupun, ada retakan kecil dibagian depan, dan disebelah helm terdapat saputangan yang kumal, molor dan tidak keset lagi karna slalu kupakai waktu praktek saat pelatihan dulu. Sayang hanya ada yang kiri soalnya, yang sebelah kanannya diambil paksa sama Jarwo, tikus peliharaanku yang sering usil menggodaku ketika aku lupa memberi jatah padanya. Pemandangan itulah yang membuatku merasa tentram, nyaman dan damai. Sampai-sampai kujadikan kewajiban untuk merabanya 2x sehari, sebelum tidur dan sesudah bangun tidur.
Ancrii…T!! mungkin itu kata pertama yang kluar dari mulutku, saat kudengar ringtone sms “blukuthuq” dari hape warna silver milenium yang aku beli dari hasil kringat sendiri dari konter temanku. Lalu kucari kembali asal dering tadi, yang berani memecah lamunan tuannya. Eh….!!! Ternyata diatas majalah berlambang kelinci berdari kupu-kupu dengan kover depan “Lady Escort” sedang berpose aduhai menjual lekukan bodinya yang bahenol bagaikan bass bethot tahun 60-an. Majalah terapi birahi yang tak kalah menantangnya dengan petualangan siUnyil atau video vivid. Kuambil hape yang telah 4 tahun setia menemaniku. Wah…!!! Ternyata sms dari Lupus, partner seperjuangan saat menimba ilmu selama 2,5 bulan di Migas yang kini senasib dengan aku. sms itu bertuliskan “Yenk, ayo golek inpormasi kerjo karo iprik2 neng Blora. Tak tunggu neng omah yo!”. Segera kusambar handuk lalu bergegas menuju sumur, untuk mencicipi segarnya air kehidupan. Sebetulnya, siputri tidur masih ngebet memadu kasih denganku. Namun, sebagian anggota tubuhku memprotes kebijakan tuannya yang dinilai terlalu memaksakan diri dan kurang relevan. Apa boleh buat? Dalam kondisi darurat otoriter memeng menjadi solusi yang tepat untuk diterapkan. Sebab, Lupus sudah menunggu kedatanganku.
Dengan rambut basah dan badan merasa lemas karna terlalu bersemangat mandi sambil mengenakan handuk yang kubalutkan menutupi auratku. Aku berjalan meninggalkan kamar mandi untuk menuju meja makan. Kudapati sepiring nasi goreng spesial telor ceplok yang uapnya masih mengebul, yang dibuat berbumbukan kasih sayang, hasil buah tangan mak Jum, wanita cantik yang telah melahirkanku 24 tahun silam. Tak jauh dari meja kira-kira 100 yard dari arah jam 9, terdengar nyanyian lagu “Wo’o kamu ketahuan, pacaran lagi…” sebuah tembang yang di populerkan sama group band Matta dan pernah hits di negri ini, ada versi dangdutnya juga lho!!! Tapi yang kudengar ini tidak jelas, versi pop atau dangdut. Wo…alah!!! Kirain sapa? ternyata lek Sastro, karyawan seniornya bapakku yang sedang mengais botol sisa dari penjualan loakan, yang tidak laku dijual kemaren sore.
Mentari makin tinggi merangkak naik keluar dari gunung kembar. Kuambil celana Levi’s biru merk Amrik, yang bergantung di dinding yang terbuat dari papan kayu, dengan t-shirt warna hitam yang bertuliskan “Fuckin Capitalist”. Tak lupa kukenakan pula jaket kebanggaanku berwarna abu-abu yang dikolaborasikan dengan merah. Yang sudah lebih dari 2 bulan tidak dicuci. Seiring dengan bait terakhir lagu “Positive Thinking” miliknya Kobe, sebuah group band asal kota lumpur Sidoarjo yang pernah mampir menghibur korban banjir dan mengantarkan warga Cepu ke depan pintu 2008, beberapa waktu yang lalu.
Waktu menunjukkan pukul 07.30 kutinggalkan ruang peristirahatanku. Sementara dengan semangat membara melebihi penyerbuan tentara Bush ke Irak, pasukannya Fir’aun yang akan menggeser Ka’bah dan pasukan mahasiswa yang akan berdemo ke DPR. Ku kendarai motor Vega silver berebek-ebek hitam, produk indah dari negara Jepang. Kupacu kencang, entah berapa kecepatannya. Aku tak tahu, masalahnya kabel spedonya copot termakan usia dan udah pantas untuk di kilo. Sesampainya di traffic light, pas lampu merah perempatan, jantungnya kota minyak, kuliat di kiri teredapat bus Margo Djoyo jurusan Bojonegoro warna hijau yang pintunya sudah korosi dan collapse (penyok). Udah pantas dimuseumkan. Penumpangnya juga cuman segelintir orang.
Tiba-tiba dari arah pintu depan dengan sigap 2 anak kecil dengan baju seadanya, sedikit sobek di bagian lengan dan warna raut muka gosong serta rambut memerah jagung karena terlalu bersahabat dengan terik matahari. Di tangannya menggenggam icik-icik dari tutup botol, tanpa check sound layaknya Ungu atau Andra and The Backbone, kedua musisi dadakan ini mulai beraksi. Dari mulut kecilnya melantun tembang “Kucing Garong” tanpa nada pelog atau slendro, tak jelas ritmenya. Semua sosok mata penumpang bus tertuju pada 2 sosok kecil musisi muda dadakan tadi, dalam lubuk hatiku yang paling dalam timbul suatu pertanyaan yang tak bisa kubahasakan… “Apakah ini potret generasi muda yang notabenenya akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa ini?
Disebelah kananku ada laki-laki paruh baya naik Vario hitam pekat. Dengan wajah berbinar-binar penuh semangat. Mengenakan sepatu vantovel hitam dan tas koper di punggungnya. Entah apa yang terlintas dalam benaknya? Memandangi lampu merah tidak segera berubah menjadi hijau. Mungkin dalam pikirannya mengimajinasikan sebuah alat untuk membantunya cepat sampai di kantornya dalam hitungan detik karena mungkin kliennya sudah menunggu di kantornya atau mungkin memikirkan karyawatinya yang sudah menunggunya untuk bercinta.
Tak lama kemudian, tibalah di depan rumah yang halamannya agak luas, kuliat Lupus sedang memberi makan Kevin, piranha peliharaannya oleh-oleh dari kakaknya yang bekerja di Jakarta. Segera kuhampiri dia dan aku disuruhnya menunggu di serambi rumah. Kudapati surat kabar pagi di meja lalu kuambil koran itu, iseng-iseng cari lowongan kerja buat nambah sembakonya Mak Jum dan sebagai ban serep jika impianku berseberangan dengan kenyataan. Tapi yang kudapat…Fuck!! Like another day, Everything is suck!! KKN, Undang-undang baru, bencana alam, kriminalitas, kawin cerai artis, pemerkosaan sampai berita perselingkuhan. Yah…sepertinya kita sudah terbiasa dengan berita yang selalu membuat kita ejakulasi batin. Tak lama berselang, Lupus keluar dengan dandanan sederhana tetapi eye catching, tanpa besutan desainer terkenal asal Indo, Madam Ivan. Seandainya Rumlah, bunga desa daerah itu tiba-tiba lewat dan melihatnya, yang pertama keluar dari bibirnya adalah kata-kata Mmbeeeehhh…!! Langsung klepek-klepek seketika. Tiba-tiba terdengar kata “Yuk Yenk, mangkat!” dari Lupus memecah lamunanku dan kujawab “Ayo..!!”.
Jarum jam menunjukkan jam 08.03 segera kita bergegas menuju Kota Sate untuk mengorek informasi sebanyaknya dari berbagai sumber yang bisa dipercaya. Perjalanan kami telah dimulai dari melewati beberapa kecamatan, disuguhi dengan pemandangan desa nan elok, sawah menghijau membentang luas, hutan jati yang masih menghijau walaupun masih ada sistem tebang liar, dan jalan aspal yang semakin hari semakin berlubang akibat daya kreatif manusia untuk mengatasi keterhimpitan. Tak terasa kami sudah sampai di tempat tujuan, yaitu kantor Disnakertrans Blora, kemudian kuparkir sepeda motorku lalu masuk ke dalam. Kuliat di sebelah kiri banyak orang yang sedang menunggu lama Kartu Kuning (kartunya para pencari kerja) yang sedang diproses oleh pegawai. Malahan ada yang ketiduran karna terlalu lama menunggu. Sebelah kanan kudapati beberapa pegawai yang mempunyai intensitas kesibukan yang bermacam-macam, ada yang sibuk melayani orang-orang mengurus Kartu Kuning, ada yang sibuk ngobrol menggosipkan sesuatu yang tak tahu jlunturannya. Ada yang sibuk mondar-mandir sambil bawa stopmap biru, bahkan ada juga yang sibuk nge-Game di komputer seraya mendengarkan “Winamp” tembang jawa, entah apa judulnya? Tapi dari bait terakhir terdengar “….Leyeh-leyeh ena…k tena…n.” Segera kami masuk untuk bertemu dengan orang yang bertanggung jawab mengurusi pelatihan. Kebetulan beliau berada di tempat, lalu kami menghampiri beliau di meja kerjanya. Disambut dengan senyuman lebar memamerkan gigi kuningnya yang Full Nicotine disusul dengan juluran tangan untuk bersalaman.
Dengan memperkenalkan diri, ku awali audience dengan beliau, dilanjutkan dengan menjelaskan maksud kami berkunjung ke sana.
“Apakah Depnaker bisa merekomendasikan OLB Pemkab Blora yang sudah memiliki sertifikat untuk magang ke perusahaan operasi pemboran? tanyaku.
“Gini mas, untuk membuat surat rekomendasi sih kami bisa. Tapi apakah perusahaan mau menerima njenengan? Soalnya tiap-tiap perusahaan tidak mau mengambil resiko menerima magang begitu saja” jawabnya. “Ntar kalo ada apa-apa siapa yang bertanggung jawab?” lanjutnya.
“Ketika Rig (menara pemboran) masuk ke Kab. Blora, otomatis kan harus ijin dulu ke Pemda, kalo pas waktu itu Pemda menyalurkan para OLB bisa ndak Pak?” tanya Lupus.
“Itu ndak tau saya. Ya….kemungkinannya sangat kecil sekali bisa masuk ke perusahaan pemboran.” jawab bapak tadi. Kemudian dilanjutkan dengan menceritakan hal-hal di luar tujuan kami, seolah-olah memberi harapan-harapan dan janji-janji yang tidak relevan malahan terkesan ndobos. Karna alasan tersebut, langsung kusudahi saja perbincangan kami dengan bapak itu, lalu mengakhirinya dengan berjabat tangan. Sebelum menuju ke tempat parkir, kami sempatkan melihat papan pengumuman iseng-iseng cari lowongan kerja. Yah…!! ternyata yang kami dapati cuman informasi kerja yang sudah kadaluarsa yang masih tertempel di papan dan kaca.
Langsung saja kuambil motor tancap gas untuk pulang. Tapi dalam benakku terlintas pertanyaan, “Sebenarnya, untuk apa to pelatihan ini diadakan? Jika pihak Pemda dan pihak lain yang bertanggung jawab tidak mau membantu untuk menyalurkan para pesertanya ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan, sesuai dengan kompetensi yang didapat?“
Kita harus mengandalkan diri sendiri untuk bekerja di perusahaan, apa kita bisa? Apakah perusahaan mau menerima kita? Tapi yang jelas ada beberapa jawaban dari pertanyaanku tadi :
Yang pertama, Pemda dan Depnaker memberikan sesuatu yang berharga sebagai wujud pengabdiannya kepada masyarakat dengan memberikan dan membekalinya skill yang memadai sesuai dengan sertifikat kompetensi yang dimiliki. Supaya nantinya bisa menjual diri. Yang kedua, mengurangi tingkat pengangguran di daerah. Yang ketiga, pelatihan ini juga bisa memberi keuntungan kepada orang-orang yang bertanggung jawab atau orang yang menangani pelatihan. Karna hasilnya lumayan bisa untuk menyambung nafas hidup hingga akhir bulan.
Sebenarnya pihak Pemda tidak hanya memberi ketrampilan, tetapi juga menyalurkan output dari hasil pelatihan untuk bekerja di perusahaan yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Karena pelatihan ini diadakan setiap tahun sekali, agar tidak bermunculan Teyenk dan Lupus yang baru, seperti itulah harapanku.
- Tempat Itu Bernama Warung Kopi
- Anakku Sudah Bisa Kencing Sendiri
- Anakku Seorang Penjilat
- Anak-anak Menerima Rapot
- Kita adalah Orang-orang yang Menunggu
- Pergi Hanya untuk Kembali!
- Teman Masa Kecilku
- Betapa Ingin Saya Dicemburui
- Milikku Akan Selalu Kembali Kepadaku
- Berikan Sakit Anakku Kepadaku
- Bau Tubuh Istriku
- Berdialog dengan Derita
- Doa Yang Salah Jurusan
- Doa Anak-anak Saya
- Di Stadion Dengan Penonton Ratusan Ribu
- Blok Cepu Yang Sebenarnya
- Band Jepang yang Beraliran VISUAL KEI
- Fenomena Anak Jalanan
- Kota Cepu Kota Impian
- Hukum Newton Ketiga
- Sang Kesatria
- Geliat Seni Urban Sebagai Bentuk Aktualisasi Diri para Penduduk Kota
- Overview Japanese Rock
- Anjingku Berkata "ANJING" Kepadamu
- Bangkitnya Pergerakkan Mahasiswa
- Seandainya Jeritanku Terdengar
- Pentingnya Sebuah Blog Untuk Guru
- Saat Kuhapus Bekas Bibirnya
- Budaya Indie Sebagai Bentuk Kemerdekaan Berkreatifitas
- Simbol Perlawanan Itu Menjual
- Presentation is Your Show - Selesai
- Presentation is Your Show #7
- Presentation is Your Show #6
- Presentation is Your Show #5
- Presentation is Your Show #4
- Presentation is Your Show #3
- Presentation is Your Show #2
- Presentation is Your Show #1
- Sex After Dugem - Filsafat Praktis untuk Menulis
- Menulis itu gampang. Lesson No. 6
- Menulis Itu Gampang. Lesson No. 5
- Menulis Itu Gampang. Lesson no. 4
- Menulis itu gampang. Lesson No. 3
- Menulis itu gampang. Lesson No. 2
- Menulis itu gampang. Lesson No. 1


