Hukum Newton Ketiga
Ditulis oleh Prie GS Kamis, 22 Oktober 2009 21:07
Pelajaran fisika ternyata bisa melalui siapa saja termasuk melalui penjual jagung bakar langganan saya. Dari dia saya sanggup menghafal dengan sangat baik tentang Hukum Newon Ketiga yakni aksi akan sama besar dengan reaksi tapi bergerak secara berlawanan. Gampangnya, jika Anda memukul sekuat tenaga, pukulan itu bisa dimanfaatkan lawan untuk menjatuhkan Anda sendiri dengan kekuatan yang sama.
Sebagai penggemar jagung bakar, saya telah mencicipi hampir seluruh rasa jagung bakar di kota tempat saya tinggal. Dari seluruh gerai jagung bakar yang ada, kepada pedagang yang satu inilah saya jatuh hati. Pertama, pasti karena rasanya. Pedagang jagung bakar langganan saya ini bisa mengolesi mentega seperti orang mengaspal jalan saja. Serba mantap, tak kenal ragu dan royal sekali.
Setiap jagung setidaknya diberi tiga kali olesan. Olesan pertama adalah olesan pembuka, yang biasanya menimbulkan asap khas yang baunya membuat saya terkesima. Olesan kedua adalah peresapan agar mentega itu melesak dengan sempurna, dan olesan ketiga adalah bonus. Berkesempatan mencicipi jagung panas berleleran mentega ini adalah salah satu sebab mengapa saya masih bangga menjadi rakyat Indonesia. Saya memang belum pernah berkeliling dunia, dan saya yakin pembakaran jagung seperti ini pasti hanya ada di negeri saya.
Oya, jika mentega ini belum dianggap cukup, mereka selalu menyertakan mentega ekstra sebagai cadangannya. Tapi, bagi saya yang paling mengesankan adalah bagaimana cara pedagang ini menjaga mutu sambalnya. Saya sangat menyukai jagung bakar asin, gurih dan pedas. Ada banyak pedagang yang bisa membuat asin, tetapi tidak cukup gurih. Banyak pedagang yang bisa asin dan gurih, tapi kepedasannya datar – datar saja. Banyak pedagang yang bisa membuat jagungnya pedas, tapi kurang asinnya. Namun, pedagang yang satu ini, semuanya nyaris sempurna, asin, gurih dan pedaaas. Aduh, tambah satu lagi, panaaas.
Saya bertanya kenapa. Dan, jawabannya ternyata ada pada kesetiaan pedagang dalam menjaga kualitas cabainya. Saya sering mencuri pandang di dapurnya. Betapa selalu cuma cabai merah yang ia pakai, bukan cabai hijau. Cabai yang selalu tua, bukan muda. Seleksinya amat ketat terhadap cabai – cabai itu, termasuk ketika harga cabai sedang meninggi dan banyak pedagang makanan ramai – ramai hanya membeli cabai muda saja.
Orang ini pasti tidak mengenal Kolonel Sanders, tapi ia mewarisi kepatuhannya dalam menjaga satu hal : bahwa rasa pun harus melewati sebuah prosedur, karenanya standarnya harus dijaga. Maka, dalam soal menjaga standar itu, saya menghormatinya seperti saya menghormati KFC. Jadi, logis, ketika pedagang jagung lain cuma sibuk termangu menunggu pembeli, pedagang langganan saya ini sudah dikerubut pembeli. Pedagang lain seperti cuma menumpang muntahan pelanggannya belaka.
Bagi saya, soal rasa itu baru separuh dari kemenangannya. Setengah kekuatannya lagi adalah pada dirinya sendiri. Sementara yang lain cuma berjualan seorang diri, kedai ini serempak maju secara suami istri. Sudah tua umur mereka dan sudah bercucu pula. Si istri seorang penyabar sementara si suami adalah pria yang gemar bercanda. Sebuah gabungan sales yang lengkap. Sebelum Hermanwan Kertajaya mempopulerkan Marketing in Venus, orang ini bahkan sudah jauh lebih dulu mempraktikkannya. Ia berdagang secara amat emosional, enak, menyentuh dan manusiawi.
Jika si pembeli adalah serombongan anak muda, dua orang ini akan bertindak sebagai bapak ibu mereka. Jika si pembeli adalah rombongan keluarga, pasangan ini bisa beralih rupa menjadi mertua, kakek – nenek, dan orang tua. Jika si pembeli adalah para juragan dengan mobil mewah yang saking mewahnya sehingga enggan turun dari mobil mereka, penjual jagung ini langsung menjadi bawahan yang setia.
Di gerai jagung bakar ini, hukum Newton Ketiga bekerja amat sangat nyata. Apa yang kita lempar ternyata adalah apa yang kita dapati. Jika begini hukumnya, kenapa kita sering cuma melempar soal – soal yang sering melukai sesama belaka. Maka tak aneh, jika sering begitu banyak luka di hati kita sendiri.
- Tempat Itu Bernama Warung Kopi
- Anakku Sudah Bisa Kencing Sendiri
- Anakku Seorang Penjilat
- Anak-anak Menerima Rapot
- Kita adalah Orang-orang yang Menunggu
- Pergi Hanya untuk Kembali!
- Teman Masa Kecilku
- Betapa Ingin Saya Dicemburui
- Milikku Akan Selalu Kembali Kepadaku
- Berikan Sakit Anakku Kepadaku
- Bau Tubuh Istriku
- Berdialog dengan Derita
- Doa Yang Salah Jurusan
- Doa Anak-anak Saya
- Di Stadion Dengan Penonton Ratusan Ribu
- Blok Cepu Yang Sebenarnya
- Band Jepang yang Beraliran VISUAL KEI
- Fenomena Anak Jalanan
- Kota Cepu Kota Impian
- Hukum Newton Ketiga
- Sang Kesatria
- Geliat Seni Urban Sebagai Bentuk Aktualisasi Diri para Penduduk Kota
- Overview Japanese Rock
- Seandainya Jeritanku Terdengar
- Anjingku Berkata "ANJING" Kepadamu
- Bangkitnya Pergerakkan Mahasiswa
- Saat Kuhapus Bekas Bibirnya
- Pentingnya Sebuah Blog Untuk Guru
- Budaya Indie Sebagai Bentuk Kemerdekaan Berkreatifitas
- Pemuda Dan Penguasa
- Presentation is Your Show - Selesai
- Presentation is Your Show #7
- Presentation is Your Show #6
- Presentation is Your Show #5
- Presentation is Your Show #4
- Presentation is Your Show #3
- Presentation is Your Show #2
- Presentation is Your Show #1
- Sex After Dugem - Filsafat Praktis untuk Menulis
- Menulis itu gampang. Lesson No. 6
- Menulis Itu Gampang. Lesson No. 5
- Menulis Itu Gampang. Lesson no. 4
- Menulis itu gampang. Lesson No. 3
- Menulis itu gampang. Lesson No. 2
- Menulis itu gampang. Lesson No. 1


