Cangkem Turahku di Kedai Kopi
Ditulis oleh Mamad Culun Kamis, 04 Februari 2010 12:05
Minal… minal… minal…!!! Begitulah suara teriakan seorang kernet angkudes yang kebetulan lagi lewat di depan warung kopi langgananku, cukup menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan sedang ngopi bersamaan denganku,karna memang suara khas seorang kernet yang identik cemplang dan nyaring, dan biasanya juga menghasilkan gelak tawa dari teman-teman ngopiku saat mendengar teriakan sang kernet.
Sambil menikmati secangkir kopi buatan mbah Maknyus bakul kopi langgananku, mataku dengan liarnya menyantap sebuah artikel yang tertulis pada sebuah harian terkemuka dikotaku. Artikel yang menarik simpatiku hingga aku menggebu-gebu saat membacanya karna artikel tersebut diawali dengan judul yang menarik pula, artikel itu berjudul “maling ayam dipidana 5th penjara, dan hampir mati dibakar warga”.
Sungguh malang nasib maling ini, karna menurut pengakuannya baru pertama kali ini dia beraksi. Dan tindakan itu dia lakukan karna suatu keterpaksaan, karna himpitan ekonomi, selain itu maling yang tergolong berusia masih remaja ini mengaku bahwa dia beraksi hanya untuk mencari biaya berobat ibunya yang sedang terbaring dirumah berperang melawan penyakit TBC yang sudah parah.
“Kulo kepeksa maling pitik pak, ibu kula gerah, mboten gadah arto kangge perikso”(saya terpaksa maling ayam buat biaya berobat ibu saya yang sakit dah gak punya biaya buat periksa) begitulah kutipan pengakuan dari si maling saat diperiksa polisi sebagaimana yang tertulis pada artikel tersebut. Betapa malang nasib maling ini, dia terpaksa menggondol ayam hanya untuk membiayai ibunya yang sedang sakit keras.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertanyaan inilah yang menggelitikku untuk merenungkan berbagai macam kemungkinan sebab hal ini bisa terjadi.Mulai dari yang masuk akal denagan berbagai macam alasan-alasan yang sampai hal-hal diluar nalar. Apkah ini semua terjadi karna kurangnya simpati dari pemerintah tentang kesejahteraan rakyatnya?atau munkin karna kurangnya respon dari lingkungan sekitarnya ataukah mengkin merupakan gabungan antara kedua nya? Huft entahlah.
Masih asyik pkiranku berkutat pada berbagai pertanyaan-pertanyaan tadi, Sementara itu mataku terus menyantap berita-berita lainnya yang disajikan dalam harian itu, mataku menyusuri artikel demi artikel, kutemukan sebauh artikel yang berjudul “pejabat 2 hari masuk bui karna tersangkut kasus korupsi uang Negara 13 triliun rupiah”. Cukup menarik perhatianku juga, Apakah anda tau prtanyan apa yang seketika itu muncul dalam pikiranku?
Apakah ini yang disebut sebuah keadilan? Seorang pemuda miskin dengan seorang ibu yang sedang sakit-sakitan dan tak mempunyai uang untuk mengobatkan ibunya hingga ia terpaksa melakukan tindak kriminal yaitu mencuri ayam milik orang lain dan mempunyai niatan menjual ayam hasil curiannya untuk mengobatkan ibunya yang sedang sakit.akan tetapi nasib berkata lain, ia gagal dalam aksinya dan ditangkap polisi dan dijatuhi hukuman 5th penjara.
Sedangkan seorang pejabat yang identik dengan hidup yang bermewah-mewahan karna mendapat gaji yang sudah besar pula, tapi ketamakannya membuat si bejat, eh map, maksud saya si pejabat tidak puas dan merasa kurang hingga ia merasa perlu menambah dan terus menambah pundi2 hartanya sampai2 ia melakukan korupsi. Akan tetapi apa yang dia dapatkan sebagai hukuman atas perbuatan korupsinya itu? hanya dua hari didalam bui dan setelah itu ia bisa bebas menghirup udara segar lagi,menikmati hasil korupsinya diluar negeri, memanjakan perut karungnya yang tiap hari kian membuncit. Huft… Memang sungguh ironis…
Ketidak pedulian terhadap sesama, kurang pekanya kita terhadap lingkungan sekitar tentang rasa kebersaman, serta makin pudarnya rasa kekeluargaan terhadap sesama pasti lah akan melahirkan maling-maling baru disekitar kita yang mempunyai kemungkinan besar dipengaruhi hal yang sama dengan apa yang dialami maling ayam diatas. Rasa egois dan mementingkan keinginan sendiri,akan menyebabkan makin bertambahnya kasus-kasus korupsi yang lain yang dilengkapi pula dengan aksi suap menyuap para aparat penegak hukum yang akhirnya berujung pada ketidakadilan dalam pelaksanaan penegakan hukum di negeri kita. Akankah kita diam saja? Akankah kita akan berpasrah diri tentang semua yang terjadi di sekitar kita?.tentu saja kita sebagai makhluk yang dianugrahi kesempurnaan dari makhluk-makhluk yang lain pasti tidak mungkin hanya diam saja.
Akan tetapi kita juga tidak hanya menanggapinya dengan omongan saja, harus ada tindakan yang nyata untuk itu semua, sebgai bukti bahwa kita benar-benar merespon keadaan yang ada di sekitar kita, dari pada menggonggong di pinggir jalan,mendigan kita ngopi, sambil merumuskan masalah apa yang akan kita lakukan untuk memperbaiki keadaan negara yang kian lama kian terpuruk seperti ini. Mulailah dengan berbagi, pupuk rasa peduli dengan sesama.
Apabila kita bisa menyisihkan apa yang kita miliki untuk orang lain yang lebih kekurangan dari kita pastilah akan memberikan sedikit perubahan tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini. Sehingga Tak akan ada lagi maling-maling ayam yang lain lagi, tak akan ada lagi kesenjangan-kesenjangan yag lain yang timbul disekitar kita yang dapatmenimbulkan hal-hal negative yang pada akhirnya menimbulkan kesengsaraan yang akan kita rasakan bersama.
- Tempat Itu Bernama Warung Kopi
- Anakku Sudah Bisa Kencing Sendiri
- Anakku Seorang Penjilat
- Anak-anak Menerima Rapot
- Kita adalah Orang-orang yang Menunggu
- Pergi Hanya untuk Kembali!
- Teman Masa Kecilku
- Betapa Ingin Saya Dicemburui
- Milikku Akan Selalu Kembali Kepadaku
- Berikan Sakit Anakku Kepadaku
- Bau Tubuh Istriku
- Berdialog dengan Derita
- Doa Yang Salah Jurusan
- Doa Anak-anak Saya
- Di Stadion Dengan Penonton Ratusan Ribu
- Blok Cepu Yang Sebenarnya
- Band Jepang yang Beraliran VISUAL KEI
- Fenomena Anak Jalanan
- Kota Cepu Kota Impian
- Hukum Newton Ketiga
- Sang Kesatria
- Geliat Seni Urban Sebagai Bentuk Aktualisasi Diri para Penduduk Kota
- Overview Japanese Rock
- Anjingku Berkata "ANJING" Kepadamu
- Bangkitnya Pergerakkan Mahasiswa
- Seandainya Jeritanku Terdengar
- Pentingnya Sebuah Blog Untuk Guru
- Saat Kuhapus Bekas Bibirnya
- Budaya Indie Sebagai Bentuk Kemerdekaan Berkreatifitas
- Simbol Perlawanan Itu Menjual
- Presentation is Your Show - Selesai
- Presentation is Your Show #7
- Presentation is Your Show #6
- Presentation is Your Show #5
- Presentation is Your Show #4
- Presentation is Your Show #3
- Presentation is Your Show #2
- Presentation is Your Show #1
- Sex After Dugem - Filsafat Praktis untuk Menulis
- Menulis itu gampang. Lesson No. 6
- Menulis Itu Gampang. Lesson No. 5
- Menulis Itu Gampang. Lesson no. 4
- Menulis itu gampang. Lesson No. 3
- Menulis itu gampang. Lesson No. 2
- Menulis itu gampang. Lesson No. 1


